Jan 14 2010
sepenggal kisah tentang tulisan tangan yang buruk rupa.*silahkan dipikir ulang kalo mau baca
Pada zamannya, Raja Agung Nebuchadnezzar II telah berhasil mengantarkan Babylonia pada kejayaan besar. Kemudian berabad-abad setelah itu, Saddam Husein sukses membangun rezim tangguh di kawasan yang sama, walaupun akhirnya lumpuh juga akibat gerogotan konspirasi. Jika dua premis ini membuat Saddam menarik kesimpulan bahwa ia adalah reinkarnasi Nebuchadnezzar II, maka biarkanlah ia dengan hipotesanya.
Di sudut lain, di sisi bumi yang lain, seorang anak peradaban, di zamannya sendiri, anggap saja dia bernama “Dwi”, percaya bahwa ia telah terlahir dua kali. Dia tidak berkesimpulan bahwa ini adalah reinkarnasi. Karena insyaAllah Dwi adalah seorang muslim sejati (amin), dia hanya percaya pada hari kebangkitan.
Namun ia merasa lingkungan telah melahirkannya kembali, mengubah beberapa hal dalam dirinya, salah satunya adalah tulisan tangannya yang dulu indah. Sebenarnya lebih mudah bagi Dwi untuk mempercayai hal-hal irrasional, metafisika, ataupun hal-hal yang susah dijelaskan oleh sains, daripada harus mempercayai bahwa tulisan indahnya benar-benar berubah.
Secara personal, nuraninya yang halus sebenarnya tidak siap untuk menerima perubahan ini. Ia memang tergila-gila pada perubahan dan hal baru, tapi ia membenci degradasi, seperti ia membenci muka busuk politik di negerinya sendiri.
Tentang tulisan tangannya yang buruk, Dwi sangat bijak memutuskan untuk tidak mendedikasikan hidupnya memperbaiki keadaan ini. Walaupun sebenarnya, tidak bisa ia tutup-tutupi, bahwa kadang ia juga bertanya pada dirinya sendiri, apakah ini kutukan? Tapi dikutuk kenapa? Apa gara2 Dwi hampir tidak pernah mencatat pelajaran atau mata kuliah apapun? Tanpa harus melihat mimik Dwi, saya sangat mengerti kegalauannya.
Kenyataannya, seringkali ketika ia menggores-goreskan pulpen ke secarik kertas, teman-temannya yang kelewat polos ragu apakah ia sedang mencatat atau sedang membatik. Keajaiban besar kalau ada yang mau meminjam catatan dwi. Sangat tidak saya rekomendasikan. Tapi saya akan ikut terharu dan bersimbah air mata (?) untuk momentum besar ini.
Jika pun mencatat, seringkali tidak ada yang bisa dibaca dari catatan Dwi, atau akan lebih bijak jika saya katakan tidak ada yang bisa membaca, bahkan kadang dirinya sendiri. Hahaha. Dia lebih banyak mencoret-coret atau menggambar abstrak. Tulisan Dwi memang sangat artistik, sehingga banyak yang iri: inilah poinnya. inilah yang membuatnya kewalahan. Hahaha. PLAKK!!!
Dunia benar-benar sudah jauh berubah, Sudah tidak ada templar yang menimbun kekayaan-kekayaan rakyat, karena lakonnya digantikan oleh bank- bank dunia yang kapitalis, dan bagaimanapun dua hal ini terlahir dari konsep yang sama, *efek mendengar debat semalam*, sudah tidak ada merpati pos karena fungsinya digantikan oleh serat-serat optik yang dengan sangat cepat menerjemahkan perintah digital, menyebarluaskan berita ke sudut-sudut dunia. Analogi yang sama, sudah tidak ada Dwi dengan tulisannya yang indah *Gubrak!
Sedikit bercerita tentang sepenggal kisah dari masa lalu Dwi, ketika ia masih duduk di kelas 2 SD, pada saat itu, labelnya sebagai murid kesayangan membuatnya tidak imut-imut untuk usianya, ia ditunjuk sebagai wakil ketua kelas *jabatan abadinya selama di SD*, tapi ia merusak mentah-mentah tatanan hirarki kelasnya secara fungsional, ia menjelma menjadi yang paling berkuasa, dan ia merasa bertanggung jawab melaporkan segala macam bentuk penyimpangan pada gurunya, atau atas alasan kemanusiaan sengaja tidak saya sebut sebagai umm… “tukang ngadu”*akhirnya kesebut juga*. Bahkan tidak jarang ia main hakim sendiri, padahal harusnya dia bermain bersama teman-temannya. Wkwkwk.
ini adalah sejarah kelam yang sengaja ia tutup-tutupi. Sejarah keemasannya adalah ketika ia dengan pongahnya menulis indah dibuku “Menulis Halus Kasar”, sebuah buku dengan tinggi baris yang tidak sama. Gurunya pada saat itu, Elly Diartini, (dengan kesadaran penuh) memuji tulisan tangannya di depan kelas (percayalah ini tidak bohong), itu membuat Dwi keluar kelas dengan kepala tegak, dan sesampai di rumah ia menulis apa saja, dimana saja, termasuk di dinding kamarnya. Andai saja gurunya melihat tulisan Dwi sekarang, saya takut beliau akan shock dan menyesali pujiannya.
Sedikit berbeda dengan manusia umumnya, yang tulisannya semakin beradab sejalan meningkatnya level pendidikan. Dengan berat hati saya katakan, Dwi memang termasuk yang tidak. Tapi sekali lagi, Dwi membenci degradasi. Yang paling menyedihkan dari kejelekan tulisannya adalah ketika mengikuti ujian, Dwi punya tugas lebih ketimbang yang lain, bukan hanya menjawab dengan benar, tapi memastikan jawabannya bisa dibaca…
Dan sekarang tidak ada orang yang akan tergerak untuk memuji tulisan tangannya. Pujian bu Elly Diartini adalah masa-masa kejayaannya yang sudah berlalu. Tidak akan terjadi lagi. Probabilitasnya seperti probabilitas Dwi mempercayai bahwa ia adalah reinkarnasi Cleopatra. Hiks.
Walaupun “hiks”, lalu apakah Dwi sedih dengan semua ini?Tidak. Dia bahagia. Karena dengan itu Dwi tidak pernah dipercaya untuk menjadi sekretaris dalam kegiatan apapun selama di SMA, yang dalam pandangannya, kerjaannya hanyalah:catat apa saja.
Walaupun sekarang dia sesekali diminta untuk menjadi notulen dalam rapat, tapi ia akan dengan sangat senang hati menolaknya, pertama karena memang dia tidak kompeten, kedua karena dia tidak suka wanita diidentikkan dengan tulis-menulis, itu bukan kodrat wanita. Dan dia tidak suka doktrin yang menyudutkannya, bahwa wanita harusnya punya tulisan yang rapi.phuh.. Yah, begitulah Dwi.. dia tetap berjuang mempertahankan identitasnya, dan ia tidak malu dengan tulisan tangannya yang buruk..
Selesai…*krik3x
Kisah tulisan buruk rupa ini memang tidak seindah kisah-kisah lainnya yang diceritakan dengan sempurna, namun setidaknya kisah ini berakhir bahagia.. hoho. Dan saya yakin banyak yang tersentuh dan bersimpati *wkwk