Jan 14 2010

celahlangit

sepenggal kisah tentang tulisan tangan yang buruk rupa.*silahkan dipikir ulang kalo mau baca

Filed under Uncategorized

Pada zamannya, Raja Agung Nebuchadnezzar II telah berhasil mengantarkan Babylonia pada kejayaan besar. Kemudian berabad-abad setelah itu, Saddam Husein sukses membangun rezim tangguh di kawasan yang sama, walaupun akhirnya lumpuh juga akibat gerogotan konspirasi. Jika dua premis ini membuat Saddam menarik kesimpulan bahwa ia adalah reinkarnasi Nebuchadnezzar II, maka biarkanlah ia dengan hipotesanya.

Di sudut lain, di sisi bumi yang lain, seorang anak peradaban, di zamannya sendiri, anggap saja dia bernama “Dwi”, percaya bahwa ia telah terlahir dua kali. Dia tidak berkesimpulan bahwa ini adalah reinkarnasi. Karena insyaAllah Dwi adalah seorang muslim sejati (amin), dia hanya percaya pada hari kebangkitan.

Namun ia merasa lingkungan telah melahirkannya kembali, mengubah beberapa hal dalam dirinya, salah satunya adalah tulisan tangannya yang dulu indah. Sebenarnya lebih mudah bagi Dwi untuk mempercayai hal-hal irrasional, metafisika, ataupun hal-hal yang susah dijelaskan oleh sains, daripada harus mempercayai bahwa tulisan indahnya benar-benar berubah.

Secara personal, nuraninya yang halus sebenarnya tidak siap untuk menerima perubahan ini. Ia memang tergila-gila pada perubahan dan hal baru, tapi ia membenci degradasi, seperti ia membenci muka busuk politik di negerinya sendiri.

Tentang tulisan tangannya yang buruk, Dwi sangat bijak memutuskan untuk tidak mendedikasikan hidupnya memperbaiki keadaan ini. Walaupun sebenarnya, tidak bisa ia tutup-tutupi, bahwa kadang ia juga bertanya pada dirinya sendiri, apakah ini kutukan? Tapi dikutuk kenapa? Apa gara2 Dwi hampir tidak pernah mencatat pelajaran atau mata kuliah apapun? Tanpa harus melihat mimik Dwi, saya sangat mengerti kegalauannya.

Kenyataannya, seringkali ketika ia menggores-goreskan pulpen ke secarik kertas, teman-temannya yang kelewat polos ragu apakah ia sedang mencatat atau sedang membatik. Keajaiban besar kalau ada yang mau meminjam catatan dwi. Sangat tidak saya rekomendasikan. Tapi saya akan ikut terharu dan bersimbah air mata (?) untuk momentum besar ini.

Jika pun mencatat, seringkali tidak ada yang bisa dibaca dari catatan Dwi, atau akan lebih bijak jika saya katakan tidak ada yang bisa membaca, bahkan kadang dirinya sendiri. Hahaha. Dia lebih banyak mencoret-coret atau menggambar abstrak. Tulisan Dwi memang sangat artistik, sehingga banyak yang iri: inilah poinnya. inilah yang membuatnya kewalahan. Hahaha. PLAKK!!!

Dunia benar-benar sudah jauh berubah, Sudah tidak ada templar yang menimbun kekayaan-kekayaan rakyat, karena lakonnya digantikan oleh bank- bank dunia yang kapitalis, dan bagaimanapun dua hal ini terlahir dari konsep yang sama, *efek mendengar debat semalam*, sudah tidak ada merpati pos karena fungsinya digantikan oleh serat-serat optik yang dengan sangat cepat menerjemahkan perintah digital, menyebarluaskan berita ke sudut-sudut dunia. Analogi yang sama, sudah tidak ada Dwi dengan tulisannya yang indah *Gubrak!

Sedikit bercerita tentang sepenggal kisah dari masa lalu Dwi, ketika ia masih duduk di kelas 2 SD, pada saat itu, labelnya sebagai murid kesayangan membuatnya tidak imut-imut untuk usianya, ia ditunjuk sebagai wakil ketua kelas *jabatan abadinya selama di SD*, tapi ia merusak mentah-mentah tatanan hirarki kelasnya secara fungsional, ia menjelma menjadi yang paling berkuasa, dan ia merasa bertanggung jawab melaporkan segala macam bentuk penyimpangan pada gurunya, atau atas alasan kemanusiaan sengaja tidak saya sebut sebagai umm… “tukang ngadu”*akhirnya kesebut juga*. Bahkan tidak jarang ia main hakim sendiri, padahal harusnya dia bermain bersama teman-temannya. Wkwkwk.

ini adalah sejarah kelam yang sengaja ia tutup-tutupi. Sejarah keemasannya adalah ketika ia dengan pongahnya menulis indah dibuku “Menulis Halus Kasar”, sebuah buku dengan tinggi baris yang tidak sama. Gurunya pada saat itu, Elly Diartini, (dengan kesadaran penuh) memuji tulisan tangannya di depan kelas (percayalah ini tidak bohong), itu membuat Dwi keluar kelas dengan kepala tegak, dan sesampai di rumah ia menulis apa saja, dimana saja, termasuk di dinding kamarnya. Andai saja gurunya melihat tulisan Dwi sekarang, saya takut beliau akan shock dan menyesali pujiannya.

Sedikit berbeda dengan manusia umumnya, yang tulisannya semakin beradab sejalan meningkatnya level pendidikan. Dengan berat hati saya katakan, Dwi memang termasuk yang tidak. Tapi sekali lagi, Dwi membenci degradasi. Yang paling menyedihkan dari kejelekan tulisannya adalah ketika mengikuti ujian, Dwi punya tugas lebih ketimbang yang lain, bukan hanya menjawab dengan benar, tapi memastikan jawabannya bisa dibaca…

Dan sekarang tidak ada orang yang akan tergerak untuk memuji tulisan tangannya. Pujian bu Elly Diartini adalah masa-masa kejayaannya yang sudah berlalu. Tidak akan terjadi lagi. Probabilitasnya seperti probabilitas Dwi mempercayai bahwa ia adalah reinkarnasi Cleopatra. Hiks.

Walaupun “hiks”, lalu apakah Dwi sedih dengan semua ini?Tidak. Dia bahagia. Karena dengan itu Dwi tidak pernah dipercaya untuk menjadi sekretaris dalam kegiatan apapun selama di SMA, yang dalam pandangannya, kerjaannya hanyalah:catat apa saja.

Walaupun sekarang dia sesekali diminta untuk menjadi notulen dalam rapat, tapi ia akan dengan sangat senang hati menolaknya, pertama karena memang dia tidak kompeten, kedua karena dia tidak suka wanita diidentikkan dengan tulis-menulis, itu bukan kodrat wanita. Dan dia tidak suka doktrin yang menyudutkannya, bahwa wanita harusnya punya tulisan yang rapi.phuh.. Yah, begitulah Dwi.. dia tetap berjuang mempertahankan identitasnya, dan ia tidak malu dengan tulisan tangannya yang buruk..

Selesai…*krik3x

Kisah tulisan buruk rupa ini memang tidak seindah kisah-kisah lainnya yang diceritakan dengan sempurna, namun setidaknya kisah ini berakhir bahagia.. hoho. Dan saya yakin banyak yang tersentuh dan bersimpati *wkwk

Bookmark and Share

10 responses so far

Jan 14 2010

celahlangit

purpleberry

Filed under Uncategorized

Saya bingung, maka biarkanlah saya buka tulisan ini dengan:

Maha benar Allah yang Maha agung..

Tulisan ini hanyalah kelebatan pikiran saya, loncatan pikiran dari satu hal ke hal berikutnya, yang saya coba langsung tulis, yah, ini metode baru untuk membuat saya mau menulis, saya itu –masyaAllah- malesnya luar biasa. Jadi harus disentil, harus berani mencoba metode apapun. Baiklah, tolong diapresiasi. Plok plok plok. Makasih makasih.

Hmm,, tadi saya lagi mikir, sebenernya kenapa sih saya males ngepost? Dan setelah menggunakan tool 5WHY (ini adalah tool pencarian rootcause yang saya pelajari di kuliah, yaitu dengan bertanya “kenapa dan kenapa” terus menerus.. Kenapa 5? Apakah dilakukan sebanyak 5 kali? Tidak. Dengan berat hati saya katakan ini hanyalah kamuflase, cara naïf untuk membuat tool ini seperti lebih sistematis, karena pada kenyataannya tool ini mengharuskan kita bertanya kenapa terus menerus sampe kiamat. Haha. Ga ding saya lebay.)oke, kembali lagi, jadi rootcause yang saya peroleh adalah karena saya tidak siap jika tulisan saya percuma. Maksudnya, saya tidak siap kalau orang-orang tidak mengerti apa yang saya tulis.. Alibi. Dasar ga penting. Ga esensial.

Ketika saya menulis, kadang saya merasa sedang dikungkung dalam kerangkeng yang saya sebut sebagai dogma semu kebahasaan, bahwa bahasa adalah soal benar dan salah, ada aturan-aturan kebahasaan yang harus saya patuhi. Padahal ketika menulis, saya merasa sedang bertransformasi menjadi manusia paling egois sedunia. Saya adalah yang paling berkuasa dalam kata-kata, merasatidak terlalu bersahabat dengan aturan Ejaan yang Disempurnakan, dan menggunakan satu aturan mutlak dalam kebahasaan: aturan saya, alih-alih aturan berbahasa yang baik dan benar. Saya tidak peduli apa yang saya tulis, saya tidak peduli orang-orang paham maksud saya atau tidak, tidak peduli pesan saya sampai atau tidak. Saya hanya membebaskan imajinasi mengawang jauh di atas kepala saya, dan membiarkannya membumi dalam bahasa saya. Hmm,, atau perspektif saya yang salah menilai kebahasaan?

Wew. Tiba-tiba saya shock mendengar ada orang marah-marah di televisi. Siapa mereka? saya tidak peduli. Mereka juga sepertinya tidak peduli siapa saya. Yang jelas saya mendengar frasa “*piiip* yang berdampak sistemik” diulang berjuta-juta kali. Wah, seru juga tanya jawabnya (atau debat?), andai saja sekarang saya ada disana, pasti saya akan lebih shock lagi, kenapa saya tiba2 ada disana?*gubrak!

Oke, kembali lagi, tadi sampe mana ya? Ya udah ga usah dilanjutin.

Sekarang ngomongin apa ya?

Oke. Tentang cita-cita. Kenapa cita-cita? Karena tiba-tiba saya inget. Hmm.. cita-cita adalah cara manusia mematut harga untuk dirinya. Maka idealnya, seseorang akan bercita-cita setinggi langit, karena setiap orang menginginkan penghargaan setinggi-tingginya. Bukan sekedar dari orang lain tentu saja, tapi lebih kepada pembuktian pada diri sendiri.. Dan sekarang, saya merasa sedang ditonjok tepat di depan muka saya. Belakangan saya merasa seperti –oh,tidak!- pecundang.Pecundang yang kapan saja siap memuntahkan mimpi besarnya, karena tubuhnya sudah tidak mampu lagi menopang mimpi-mimpi besar itu, yang dengan sangat tidak terhormat memasang harga rendah untuk cita-citanya hanya karena ia pikir ia sudah tak mampu. Ah, dasar payah. Dia yang dulu hilang kemana??? Padahal dulu, dia sangat percaya bahkan sampai mendarah daging, bahwa tanpa mimpi besar, orang-orang hanyalah bangkai. Sepertinya dia sedang berevolusi menjadi orang biasa, haha, (kenapa “haha” ya??bingung), ia pelan-pelan berubah menjadi misoneist yang paranoid pada sedikit saja perubahan, hanya ingin bermukim pada zona aman. Lenje. Btw, ini kenapa jadi melo ya?huaaaaaaaaa..tidak.

Oke. Sampe segini ternyata saya udah males. Dan saya tiba2 ngantuk..maka biarkanlah saya berhenti .

Terakhir, siapa saja, tolong motivasi saya untuk tetap menulis,,,makasih.sama-sama.

Bookmark and Share

6 responses so far

Dec 13 2009

celahlangit

wilcoxia

Filed under Uncategorized

Dalam kabut pagi itu, dalam derai tawa kita yang mengiang di ruang-ruang memoriku

Aku kembali rindu

Lalu akan, di sisi pelangi, kembali kusimpul memori lalu

Kukelit berkelindan hingga ujung pelangi itu

Dan untuknya, aku tinggal menunggu hujan, berharap hujan

Hingga tetes-tetes airnya jatuh seperti kelap-kelip kembang api

seperti convety yang ditaburkan peri-peri beberapa hasta di atas kepalaku

Peri-peri yang sama,yang menaburkan bibit-bibit warna lembayung dan jingga pada awan senja.

Warna itu keluar alami dari kepak-kepak sayap mereka.

Lalu mereka terbang dari mega demi mega menyerak warna, sampai langit senja utuh, terlukis sempurna..

Terbias pada muka laut, terpantul di bola mata nelayan yang sedang melempar jala

Hmm.. lukisan senja.. disanalah..

aku kembali rindu..

pada derai tawa kita yang mengiang

pada matahari terbenam

pada awan senja

pada ombak

pada kumandang adzan yang menarik kita pulang

pada bau laut

pada permukaan laut yang menjelma setumpuk intan berkilauan..

yang sangat jelas, kulihat juga pantulan kemilaunya di bola mata kalian..

Bookmark and Share

8 responses so far

Oct 06 2009

celahlangit

cumulus humilis

Filed under Uncategorized

Terselip rinduku di celah puing- puing itu

Diantara tanah retak yang kau injak-injak

Di antara udara gersang kota itu,yang kau rasakan cuacanya,kau puji langitnya, awannya, bintangnya

Terselip rinduku di sana..

Di antara dinding-dinding rumahmu, yang ia rekam ceritamu, ia rekam doa-doamu, ia rekam tawamu waktu itu…

Terselip rinduku di sana, di satu bagian hatimu,

Di wajahmu, di keningmu, di pundakmu, di lenganmu, di telingamu,

ingin kubisikkan lekat-lekat disana bahwa akan ada hari baru..

tak peduli kau sudah tak lagi bisa mendengar kalimatku..

hanya sekedar menyeka duka dari petaka

melepuh lelah

hingga senyummu kembali merekah indah..

hanya untuk itu,,

Makanya ia menyelip lekat disitu…

*Untuk tanah kelahiranku, untuk kota kecilku, untuk saudara-saudaraku, untuk senyum mereka, untuk apa saja yang Kau ambil dariku, aku percaya ada ganti yang lebih baik…huff…amin.

Bookmark and Share

6 responses so far

Aug 18 2009

celahlangit

Filed under Uncategorized

aku tengah mengajukan pertanyaan yang sama

seperti yang dulu ditanyakan berulang-ulang oleh hidup pada nyawa

yang segan-segan diajukan pula oleh waktu tentang kapan ia bermula

jika saja itulah kau

kau yang adalah hening tanpa suara,

dan di setiap jenakmu, kau patut-patut kalimatku

kau adalah diam yang merupa dalam syairku

lalu di setiap detik kau sempatkan memberi isyarat

kau suruh aku menyombong pada luka

sebab bagimu senyum adalah titah.

kau yang entah sejak kapan menjelma dalam bijak,

yang diam-diam kau sembunyikan kata-kata dalam rautmu

kau lebur rasa dalam matamu

kau simpan ceritaku diantara tulang-tulang wajahmu

itulah kau,

dan aku tengah mengajukan pertanyaan yang sama,

sebenarnya siapa aku?

Bookmark and Share

One response so far

Aug 01 2009

celahlangit

ga penting

Filed under Uncategorized

Lebih kurang tiga minggu yang lalu saya sedang berada dalam sebuah bis menuju tujuan saya(?).

Hal yang pasti saya dapatkan di dalam bis adalah suara derum kendaraan jalan raya yang padat,bunyi klakson,

bau mesin kendaraan bercampur bau bensin dan bau minyak angin yang memualkan,

bau rokok penumpang lain yang membuat saya setengah mati menahan keinginan melempar si perokok keluar lewat jendela bis,

pedagang asongan yang mengasong apa saja, mulai dari makanan,minuman, buku pintar, gunting kuku sampai lem tikus. Ckckck.

Selain itu tentu saja pengamen dari yang benar-benar berkualitas hingga yang membuat beberapa penumpang mungkin bingung dia sedang bernyanyi atau sedang ngobrol sendiri.

Ada beragam orang. Supir, pengamen, pedagang asongan, ibu rumah tangga mungkin, mahasiswa, pengangguran, dan lainnya. Saya dan mereka yang memiliki latar belakang dan visi yang berbeda-beda disatukan dalam bis itu, agar saya dan mereka bisa melihat sesuatu yang berharga di balik perbedaan.

Tentang pengamen. waktu itu Ada 3 orang pengamen cilik sekaligus yang tiba-tiba masuk membawa masing-masing alat musiknya.

Saya tau pengamen adalah hal yang biasa di dalam bis. Tapi waktu itu saya sedang sangat melankolis sehingga memperhatikan apapun dengan penuh penjiwaan.

Saya menaksir (bener ga sih istilahnya?) anak-anak tersebut berusia sekolah dasar. Tapi saya curiga mereka adalah tiga dari sangat banyak anak yang tidak lagi sekolah dengan pembelaan klasik yang tidak pernah bisa saya tolerir ; daripada sekolah lebih baik cari uang.

Mereka adalah dua gadis kecil dan seorang anak laki-laki kecil yang umurnya pastilah tak beda jauh.

Si anak laki-laki kecil membawa alat musik perkusi sederhana yang sudah sangat usang. Terlihat seperti sudah sejak lama digunakan mengamen. mungkin ia mendapatkan itu dari pengamen yang lebih senior.

Satunya lagi gadis kecil dengan biolanya. Ia akan lebih manis jika saja dipelihara di lingkungan kaum minoritas Indonesia yang hidup dengan sangat amat layak.

Tapi kenyataannya ia tumbuh di jalanan, besar oleh debu-debu jalanan, timbal dan jelaga kendaraan. Wajahnya khas gadis kecil polos yang belum mengenal beban hidup. Ia tentu saja berasal dari keluarga yang tak mampu seperti kedua temannya.tapi tak tampak sedikitpun mimik risau diwajahnya .

saya mengenal kemampuan anak kecil untuk menganggap remeh masalah apapun. Anak kecil akan mudah tertawa hanya beberapa menit setelah ia berhenti menangis. saya tau mereka tidak sedang berpura-pura tidak punya masalah. Sungguh tidak ada kepura-puraan. Tapi mereka lebih memilih menghadapinya dengan senang hati, khas jiwa kanak-kanak mereka. Tidak seperti orang dewasa yang selalu berpikir rumit dan cenderung berpura-pura kuat…

ia memegang mantap stik biolanya, membuat saya tak meragukan kemampuannya. Walaupun masih sangat muda, pengalaman pasti telah mengajarinya banyak hal tentang biola jauh lebih banyak dari apa yang bisa orang tuanya ajarkan tentang betapa berharganya pendidikan.

Satu anak perempuan lagi memegang gitar. Ia berbadan lebih besar daripada gadis biola tadi. Tapi gitar yang ia pegang tak sepadan dengan ukuran tubuhnya. Gitar itu seperti agak sungkan dipangku dengan separuh hati.

Air mukanya sama dengan gadis biola tadi. Dan sama seperti anak kecil lain yang menganggap hidup adalah taman bermain.

Mereka mengucapkan salam. Tak ingin rugi pahala, saya membalasnya pelan. Alih-alih berbasa-basi panjang lebar seperti pengamen lainnya, mereka langsung memainkan alat musiknya. Hanya dalam beberapa detik mereka berhasil membuat saya bengong terkagum-kagum. Dan membuat yang lain kagum terbengong-bengong(?).

Saya memperhatikan sekeliling. Ternyata tak hanya perhatian saya yang mereka curi, beberapa penumpang lainpun tampak tertarik. Mereka menciptakan harmoni luar biasa dari alat musik usangnya. Nada-nada itu dijamu dengan ramah oleh jiwa saya yang sedang benar-benar melankolik.

saya tidak terlalu tau lagu apa yang sedang mereka bawakan. Pertama karena pengetahuan saya tentang lagu2 indonesia sekarang agak memprihatinkan. Kedua karena memang saya hanya ingin menikmati kekaguman saya pada kemampuan mereka. imajinasi saya yang.. yah,konyol membuat saya merasa sedang menjadi model video klip mereka. hahaha.*ups*

Anak laki-laki tadi menabuh perkusinya, meningkahi nada-nada dengan penuh keyakinan sambil mendendangkan lirik lagu yang saya tidak kenal.

Suaranya sengaja dibikin sengau-sengau tidak jelas, karakteristik mayoritas vokalis band Indonesia beberapa tahun belakangan.(sejujurnya, menurut saya itu merusak padanan musik luar biasa yang sudah sepenuh hati mereka mainkan, dan tentu saja sedikit merusak mood saya).

Si gadis kecil memainkan biolanya dengan sangat lincah. Ia mendadak terlihat sangat anggun di mata saya. Nada biolanya telah menyihir saya. Dan ia berhasil membuat saya iri.

Perempuan kecil yang memainkan gitar tampak memaksa jari-jari kecilnya untuk berpindah-pindah kunci. Saya tau ia kesulitan. jari manisnya tak sempurna menyentuh senar saat memainkan kunci C.

walaupun begitu ia tetap terlihat sangat lincah, ia juga mendendangkan liriknya dengan penuh percaya diri. Sepertinya sudah sangat dia hapal di luar kepala.

saya seperti percaya dia bisa bernyanyi dengan benar bahkan saat mengigau. Dan saya tidak terlalu yakin dia hapal lagu Indonesia raya. Apalagi hapal preambule undang-undang dasar. Atau jangan2 bahkan dia tidak hapal pancasila???setidaknya dia harus hapal rukun iman dan rukun islam…hoho

Mereka memainkan 2buah lagu, yang keduanya saya tidak tahu. Kemudian dengan muka malu-malu tapi mau mereka mengumpulkan receh dari semua penumpang bis. Termasuk saya yang menyerahkan sejumlah uang dalam kondisi masih terpukau, mata berbinar-binar dan senyum paling tulus sedunia.

Setelah menyisir semua penumpang mereka meloncat keluar dari bis yang sedang berjalan pelan. Saya kecewa. Harusnya lebih banyak lagu yang mereka mainkan. Dan seketika saya dihinggapi keinginan tak tertahankan untuk ikut mengamen bersama mereka..wkwk.

Baiklah , saya mengakui saya telah sangat berpanjang lebar menjelaskan kekaguman saya. Tapi namanya juga lagi bercerita.hoho.

Jujur saja, saya jadi tergerak menulis ini ketika mendengarkan lagu d’Massiv dari tv ruang tengah, judulnya (mungkin) “jangan menyerah” (maklum, perbendaharaan judul-judul lagu saya agak memalukan).

Well, Saya ingin mengutip sedikit lirik di lagu ini, bunyinya seperti ini:

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik”

Sederhana. Tapi dalam.

Karena lirik itu saya jadi teringat kembali musisi-musisi cilik dalam bis yang pernah saya temui beberapa waktu lalu.

Saya teringat wajah polos mereka, teringat betapa lincah dan percaya dirinya mereka memainkan alat musiknya, teringat wajah malu-malu mereka menampung receh untuk dibawa pulang.. mungkin untuk ibu mereka,

tapi umumnya pengamen2 cilik seperti mereka harus menyetor penghasilan pada siapa itu namanya?baiklah, sebut saja “bos pengamen”.

Tapi mereka terlihat begitu “bersyukur”.

mereka bisa saja tau, di lain tempat ada anak-anak seumuran mereka yang sedang les musik privat dengan grand piano di rumah mewahnya, ada anak lain yang sedang liburan bersukacita sambil berfoto ria bersama badut di taman hiburan, ada anak lain yang dari pagi hingga malam menggarap games online di kamarnya,,yep.ada banyak anak lain yang hidup dengan jauh sangat layak.

tapi mereka tidak pernah terlalu ingin menuding Tuhan tidak adil. Mereka tidak pernah menghakimi siapapun bahwa mereka sedang dieksploitasi, bahwa mereka sangat sering dikhianati oleh orang-orang yang lebih dewasa yang harusnya melindungi mereka.

Saya pikir,mereka telah sejak dulu berdamai dengan keadaan,bahkan sejak mereka lahir, tidak seperti saya yang selalu gagal mencoba berdamai dengan cara negara memelihara anak-anak terlantar.

Yah, mungkin karena selama ini saya selalu mendengar kabar tentang nasib buruk mereka. Tapi saya telah berdamai sedamai damainya dengan diri saya yang terlalu emosional untuk urusan semacam ini.

Saya yakin, siapapun percaya bahwa tak ada manusia yang bisa memesan dia terlahir sebagai apa, dimana, dari rahim ibu seperti apa dan dalam keadaan bagaimana. Tidak perlu seorang ulama untuk menegaskan dalam ceramahnya bahwa bukan berarti karena perbedaan ini Tuhan itu tidak Adil.

Tuhan maha adil dan Tuhan maha berkehendak. Dan justru disinilah awal tantangannya… untuk seterusnya tugas kita adalah mengkalibrasikan harapan dengan kehendak Tuhan.

Karena mustahil menggunakan skala yang sama, yang kita lalukan hanyalah berusaha menyetarakan. Toolsnya adalah ikhtiar,doa dan tawakal. Bingung?saya juga bingung *gubrak!*.sudah, lupakan saja.

Dan untuk semua tantangan itu, jawabannya hanyalah sehebat apa kita bisa bersabar dan bersyukur…saya tekankan pada kata “bersyukur”, karena seringkali orang-orang salah mengartikannya.

Ini sebenarnya adalah peer besar untuk saya, karena saya (dengan kesadaran penuh) juga sering salah mengartikannya. Syukur tidaklah berhenti pada rasa ridha atas apa yang telah didapatkan, tapi terintegrasi dengan keinginan untuk melakukan yang lebih baik dan tentu saja implementasinya. selalu lebih baik. Continuos improvement. Nah loh?kapan berhentinya?hanya akan berhenti saat kaki-kaki kita menginjak surga.amin^^

Sampai disini, saya juga jadi teringat sepenggal kalimat dalam surat cinta untuk saya, dalam suratNya,Dia berfirman;

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “(Q.S 2:216)

Tentang harapan kita. Tentang kehendak Tuhan. Tentang takdir. Perlu sangat banyak kata untuk menjelaskan ketiganya. Saya tidak ingin terdengar bodoh dengan mencoba berfilosofi tentang ini. Karena saya memang tidak ahli. Yang jelas saya yakin, setiap yang membaca, telah mengambil pemahaman sendiri dari tulisan-tulisan saya yang tidak jelas ini. Tentang harapan kita. Tentang kehendak tuhan. Tentang takdir.

Agar terkesan sedikit bijak, biar saya simpulkan. Kesimpulannya adalah :saya sotoy.haha. tak apa-apalah, saya menghargai kesotoyan saya seperti saya menghargai nikmat hidup sehat dan waras.

Semoga saya bisa lebih bersyukur dan lebih memaknai hidup. Kamu juga.

Bookmark and Share

2 responses so far

Aug 01 2009

celahlangit

bagian kita

Filed under Uncategorized

disini,

jangan pedulikan angin

ia hanya untuk menggoda rumput yang malu-malu

bukan untuk menyapa kita yang telah sejak dulu menyombong pada masa lalu

jangan pedulikan lafaz yang mereka ingat-ingat di luar kepala

kita punya bagian sendiri

menemukan denyut jantung kita di sela akar-akar rumput duri

kita punya bagian sendiri

mengingat nyanyian yang pernah dibawakan awan untuk bumi

kita punya bagian sendiri

tersenyum pada mimpi-mimpi kita…

Bookmark and Share

3 responses so far

Jul 11 2009

celahlangit

Filed under Uncategorized

kutemukan ketiadaan

kemudian mulai menaruh harap dalam mayapada

aku sudah gila

karena jatuh cinta pada sesuatu yang tak pernah ada…

Bookmark and Share

One response so far

Jun 22 2009

celahlangit

quintuplet

Filed under Uncategorized

Maka biarkanlah, sekali ini saja

Semuanya kusebut cinta

Untuk hujan yang membasuh penat,

yang membias pelangi hari itu

Untuk setangkai krisan yang dikeringkan waktu

Untuk embun subuh yang mengendus jengkal-jengkal tanah lalu merayu tulang-tulang dalam dingin

Untuk fajar yang merupa dalam warna-warna langit muda

Untuk matahari waktu dhuha yang menusuk dalam terik lemah, yang sinarnya menelisik ke balik pucuk-pucuk baru

Untuk siang yang bising

Untuk daun-daun kering yang gugur melatar sore, yang perlahan berderai juga dalam anggun

Untuk senja, dan aku lebur dalam rima-rima yang menyenandungkan baitnya dengan sengaja

Untuk bintang terang yang setia dalam jarak milyar tahun cahaya, menunggu tasbih teratur lirih memuja yang dipuja

Untuk celah langit yang melewatkan doa-doa,kemudian subuh berganti subuh.

Untuk setiap waktu yang kita habiskan, dalam cerita yang kukisahkan padamu

Kudapatkan kembali cerita yang terbingkai-bingkai dari mereka,,

Dari awan yang mendongeng lara dalam hujan, dari anak-anak itu, dari ibu mereka,

dari kau siapapun kau

Lihatlah, ada riak-riak halus pada air mukanya, air mukamu juga.

Biarkanlah, sekali ini saja, aku menyebutnya begitu

Jika bukan karenanya,

Maka tak akan sempat kubalas senyum-senyum itu.

Bookmark and Share

4 responses so far

May 01 2009

celahlangit

Filed under Uncategorized

Ayah, sudah lama ya…

Sejak aku mencium tanganmu mohon pamit untuk kembali mengejar cita itu

kakak bilang diam-diam air mata ayah menetes lagi melepasku pergi,

Maaf ayah, waktu itu aku malah tertawa geli bersama kakak. Bukan maksudku. Bukan.

Andai ayah tau betapa aku sedih mendengarnya, betapa aku ingin ayah tau aku tak pernah ingin pergi dari ayah

Jika dewasa justru membuatku jauh dari ayah,

sekarang dengarlah, aku tak ingin dewasa

Biar saja aku tetap jadi gadis kecil ayah

Tapi percayalah ayah, dewasa tak akan membuatku jauh dari ayah…

Ayah ingat tidak,

Dulu, waktu aku kecil, ketika aku tertidur di sofa, siapa yang menggendongku, memindahkanku ke tempat tidur?itu ayah. Aku tau ayah sangat berhati-hati, takut membuatku terbangun. Sekarang aku beritahu, aku tetap terbangun.. tapi agar ayah tak kecewa, aku pura-pura masih tidur..

Dulu, aku juga sering lupa membawa buku -bahkan kartu ujian- yang harusnya aku bawa ke sekolah, dan siapa yang mengantarnya ke sekolah untukku? Itu ayah,, maaf ayah, bu guru pasti banyak bertanya kenapa bukuku sering ketinggalan..

Dulu, aku seriiiing sekali berdebat dengan ayah,, tentang apapun, aku tau kalau mendengar bantahanku adalah hobi ayah,, ayah sepertinya puas sekali jika berhasil membuatku geram, kemudian bersama ibu menertawakanku sambil bilang “yee yang kalah ga boleh marah”. Oh plis ayah, aku yang menang.

Ayah ingat tidak, ketika ayah bilang ayah ingin aku jadi dokter, aku malah bilang ingin jadi astronot,, maaf ayah..

Hmm..

aku tidak pernah tau bagaimana perasaan ayah ketika melihatku lahir ke dunia, bagaimana perasaan ayah mendengar tangisanku, pertama kali menggendongku,lalu waktu terasa cepat berlalu, dan aku mulai bersekolah, bermain dengan teman-temanku hingga kemudian aku sudah mulai bisa membantah ayah dan perlahan hanya sedikit waktuku untuk ayah..

tapi aku tau,dulu, sekarang dan sampai kapanpun, selalu ada doa ayah untukku,

terimakasih ayah..

Maaf,, aku sering membuat ayah kecewa..

Aku sayang ayah. Sangat.

Satu lagi, aku ingat, sejak aku kecil, di setiap ulang tahunku, aku tau ayah selalu berusaha menjadikan hari itu menyenangkan untukku…

Dan sekarang, selamat hari lahir ayah…maaf telat sehari… (anak macam apa kamu???)

Doakan aku bisa menghadiahkan jannah untuk ayah ya…

~dari seorang anak sotoy, untuk ayahnya…

Bookmark and Share

9 responses so far

Older Posts »