Oct 06 2009

celahlangit

cumulus humilis

Filed under Uncategorized

Terselip rinduku di celah puing- puing itu

Diantara tanah retak yang kau injak-injak

Di antara udara gersang kota itu,yang kau rasakan cuacanya,kau puji langitnya, awannya, bintangnya

Terselip rinduku di sana..

Di antara dinding-dinding rumahmu, yang ia rekam ceritamu, ia rekam doa-doamu, ia rekam tawamu waktu itu…

Terselip rinduku di sana, di satu bagian hatimu,

Di wajahmu, di keningmu, di pundakmu, di lenganmu, di telingamu,

ingin kubisikkan lekat-lekat disana bahwa akan ada hari baru..

tak peduli kau sudah tak lagi bisa mendengar kalimatku..

hanya sekedar menyeka duka dari petaka

melepuh lelah

hingga senyummu kembali merekah indah..

hanya untuk itu,,

Makanya ia menyelip lekat disitu…

*Untuk tanah kelahiranku, untuk kota kecilku, untuk saudara-saudaraku, untuk senyum mereka, untuk apa saja yang Kau ambil dariku, aku percaya ada ganti yang lebih baik…huff…amin.

4 responses so far

Aug 18 2009

celahlangit

Filed under Uncategorized

aku tengah mengajukan pertanyaan yang sama

seperti yang dulu ditanyakan berulang-ulang oleh hidup pada nyawa

yang segan-segan diajukan pula oleh waktu tentang kapan ia bermula

jika saja itulah kau

kau yang adalah hening tanpa suara,

dan di setiap jenakmu, kau patut-patut kalimatku

kau adalah diam yang merupa dalam syairku

lalu di setiap detik kau sempatkan memberi isyarat

kau suruh aku menyombong pada luka

sebab bagimu senyum adalah titah.

kau yang entah sejak kapan menjelma dalam bijak,

yang diam-diam kau sembunyikan kata-kata dalam rautmu

kau lebur rasa dalam matamu

kau simpan ceritaku diantara tulang-tulang wajahmu

itulah kau,

dan aku tengah mengajukan pertanyaan yang sama,

sebenarnya siapa aku?

One response so far

Aug 01 2009

celahlangit

ga penting

Filed under Uncategorized

Lebih kurang tiga minggu yang lalu saya sedang berada dalam sebuah bis menuju tujuan saya(?).

Hal yang pasti saya dapatkan di dalam bis adalah suara derum kendaraan jalan raya yang padat,bunyi klakson,

bau mesin kendaraan bercampur bau bensin dan bau minyak angin yang memualkan,

bau rokok penumpang lain yang membuat saya setengah mati menahan keinginan melempar si perokok keluar lewat jendela bis,

pedagang asongan yang mengasong apa saja, mulai dari makanan,minuman, buku pintar, gunting kuku sampai lem tikus. Ckckck.

Selain itu tentu saja pengamen dari yang benar-benar berkualitas hingga yang membuat beberapa penumpang mungkin bingung dia sedang bernyanyi atau sedang ngobrol sendiri.

Ada beragam orang. Supir, pengamen, pedagang asongan, ibu rumah tangga mungkin, mahasiswa, pengangguran, dan lainnya. Saya dan mereka yang memiliki latar belakang dan visi yang berbeda-beda disatukan dalam bis itu, agar saya dan mereka bisa melihat sesuatu yang berharga di balik perbedaan.

Tentang pengamen. waktu itu Ada 3 orang pengamen cilik sekaligus yang tiba-tiba masuk membawa masing-masing alat musiknya.

Saya tau pengamen adalah hal yang biasa di dalam bis. Tapi waktu itu saya sedang sangat melankolis sehingga memperhatikan apapun dengan penuh penjiwaan.

Saya menaksir (bener ga sih istilahnya?) anak-anak tersebut berusia sekolah dasar. Tapi saya curiga mereka adalah tiga dari sangat banyak anak yang tidak lagi sekolah dengan pembelaan klasik yang tidak pernah bisa saya tolerir ; daripada sekolah lebih baik cari uang.

Mereka adalah dua gadis kecil dan seorang anak laki-laki kecil yang umurnya pastilah tak beda jauh.

Si anak laki-laki kecil membawa alat musik perkusi sederhana yang sudah sangat usang. Terlihat seperti sudah sejak lama digunakan mengamen. mungkin ia mendapatkan itu dari pengamen yang lebih senior.

Satunya lagi gadis kecil dengan biolanya. Ia akan lebih manis jika saja dipelihara di lingkungan kaum minoritas Indonesia yang hidup dengan sangat amat layak.

Tapi kenyataannya ia tumbuh di jalanan, besar oleh debu-debu jalanan, timbal dan jelaga kendaraan. Wajahnya khas gadis kecil polos yang belum mengenal beban hidup. Ia tentu saja berasal dari keluarga yang tak mampu seperti kedua temannya.tapi tak tampak sedikitpun mimik risau diwajahnya .

saya mengenal kemampuan anak kecil untuk menganggap remeh masalah apapun. Anak kecil akan mudah tertawa hanya beberapa menit setelah ia berhenti menangis. saya tau mereka tidak sedang berpura-pura tidak punya masalah. Sungguh tidak ada kepura-puraan. Tapi mereka lebih memilih menghadapinya dengan senang hati, khas jiwa kanak-kanak mereka. Tidak seperti orang dewasa yang selalu berpikir rumit dan cenderung berpura-pura kuat…

ia memegang mantap stik biolanya, membuat saya tak meragukan kemampuannya. Walaupun masih sangat muda, pengalaman pasti telah mengajarinya banyak hal tentang biola jauh lebih banyak dari apa yang bisa orang tuanya ajarkan tentang betapa berharganya pendidikan.

Satu anak perempuan lagi memegang gitar. Ia berbadan lebih besar daripada gadis biola tadi. Tapi gitar yang ia pegang tak sepadan dengan ukuran tubuhnya. Gitar itu seperti agak sungkan dipangku dengan separuh hati.

Air mukanya sama dengan gadis biola tadi. Dan sama seperti anak kecil lain yang menganggap hidup adalah taman bermain.

Mereka mengucapkan salam. Tak ingin rugi pahala, saya membalasnya pelan. Alih-alih berbasa-basi panjang lebar seperti pengamen lainnya, mereka langsung memainkan alat musiknya. Hanya dalam beberapa detik mereka berhasil membuat saya bengong terkagum-kagum. Dan membuat yang lain kagum terbengong-bengong(?).

Saya memperhatikan sekeliling. Ternyata tak hanya perhatian saya yang mereka curi, beberapa penumpang lainpun tampak tertarik. Mereka menciptakan harmoni luar biasa dari alat musik usangnya. Nada-nada itu dijamu dengan ramah oleh jiwa saya yang sedang benar-benar melankolik.

saya tidak terlalu tau lagu apa yang sedang mereka bawakan. Pertama karena pengetahuan saya tentang lagu2 indonesia sekarang agak memprihatinkan. Kedua karena memang saya hanya ingin menikmati kekaguman saya pada kemampuan mereka. imajinasi saya yang.. yah,konyol membuat saya merasa sedang menjadi model video klip mereka. hahaha.*ups*

Anak laki-laki tadi menabuh perkusinya, meningkahi nada-nada dengan penuh keyakinan sambil mendendangkan lirik lagu yang saya tidak kenal.

Suaranya sengaja dibikin sengau-sengau tidak jelas, karakteristik mayoritas vokalis band Indonesia beberapa tahun belakangan.(sejujurnya, menurut saya itu merusak padanan musik luar biasa yang sudah sepenuh hati mereka mainkan, dan tentu saja sedikit merusak mood saya).

Si gadis kecil memainkan biolanya dengan sangat lincah. Ia mendadak terlihat sangat anggun di mata saya. Nada biolanya telah menyihir saya. Dan ia berhasil membuat saya iri.

Perempuan kecil yang memainkan gitar tampak memaksa jari-jari kecilnya untuk berpindah-pindah kunci. Saya tau ia kesulitan. jari manisnya tak sempurna menyentuh senar saat memainkan kunci C.

walaupun begitu ia tetap terlihat sangat lincah, ia juga mendendangkan liriknya dengan penuh percaya diri. Sepertinya sudah sangat dia hapal di luar kepala.

saya seperti percaya dia bisa bernyanyi dengan benar bahkan saat mengigau. Dan saya tidak terlalu yakin dia hapal lagu Indonesia raya. Apalagi hapal preambule undang-undang dasar. Atau jangan2 bahkan dia tidak hapal pancasila???setidaknya dia harus hapal rukun iman dan rukun islam…hoho

Mereka memainkan 2buah lagu, yang keduanya saya tidak tahu. Kemudian dengan muka malu-malu tapi mau mereka mengumpulkan receh dari semua penumpang bis. Termasuk saya yang menyerahkan sejumlah uang dalam kondisi masih terpukau, mata berbinar-binar dan senyum paling tulus sedunia.

Setelah menyisir semua penumpang mereka meloncat keluar dari bis yang sedang berjalan pelan. Saya kecewa. Harusnya lebih banyak lagu yang mereka mainkan. Dan seketika saya dihinggapi keinginan tak tertahankan untuk ikut mengamen bersama mereka..wkwk.

Baiklah , saya mengakui saya telah sangat berpanjang lebar menjelaskan kekaguman saya. Tapi namanya juga lagi bercerita.hoho.

Jujur saja, saya jadi tergerak menulis ini ketika mendengarkan lagu d’Massiv dari tv ruang tengah, judulnya (mungkin) “jangan menyerah” (maklum, perbendaharaan judul-judul lagu saya agak memalukan).

Well, Saya ingin mengutip sedikit lirik di lagu ini, bunyinya seperti ini:

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik”

Sederhana. Tapi dalam.

Karena lirik itu saya jadi teringat kembali musisi-musisi cilik dalam bis yang pernah saya temui beberapa waktu lalu.

Saya teringat wajah polos mereka, teringat betapa lincah dan percaya dirinya mereka memainkan alat musiknya, teringat wajah malu-malu mereka menampung receh untuk dibawa pulang.. mungkin untuk ibu mereka,

tapi umumnya pengamen2 cilik seperti mereka harus menyetor penghasilan pada siapa itu namanya?baiklah, sebut saja “bos pengamen”.

Tapi mereka terlihat begitu “bersyukur”.

mereka bisa saja tau, di lain tempat ada anak-anak seumuran mereka yang sedang les musik privat dengan grand piano di rumah mewahnya, ada anak lain yang sedang liburan bersukacita sambil berfoto ria bersama badut di taman hiburan, ada anak lain yang dari pagi hingga malam menggarap games online di kamarnya,,yep.ada banyak anak lain yang hidup dengan jauh sangat layak.

tapi mereka tidak pernah terlalu ingin menuding Tuhan tidak adil. Mereka tidak pernah menghakimi siapapun bahwa mereka sedang dieksploitasi, bahwa mereka sangat sering dikhianati oleh orang-orang yang lebih dewasa yang harusnya melindungi mereka.

Saya pikir,mereka telah sejak dulu berdamai dengan keadaan,bahkan sejak mereka lahir, tidak seperti saya yang selalu gagal mencoba berdamai dengan cara negara memelihara anak-anak terlantar.

Yah, mungkin karena selama ini saya selalu mendengar kabar tentang nasib buruk mereka. Tapi saya telah berdamai sedamai damainya dengan diri saya yang terlalu emosional untuk urusan semacam ini.

Saya yakin, siapapun percaya bahwa tak ada manusia yang bisa memesan dia terlahir sebagai apa, dimana, dari rahim ibu seperti apa dan dalam keadaan bagaimana. Tidak perlu seorang ulama untuk menegaskan dalam ceramahnya bahwa bukan berarti karena perbedaan ini Tuhan itu tidak Adil.

Tuhan maha adil dan Tuhan maha berkehendak. Dan justru disinilah awal tantangannya… untuk seterusnya tugas kita adalah mengkalibrasikan harapan dengan kehendak Tuhan.

Karena mustahil menggunakan skala yang sama, yang kita lalukan hanyalah berusaha menyetarakan. Toolsnya adalah ikhtiar,doa dan tawakal. Bingung?saya juga bingung *gubrak!*.sudah, lupakan saja.

Dan untuk semua tantangan itu, jawabannya hanyalah sehebat apa kita bisa bersabar dan bersyukur…saya tekankan pada kata “bersyukur”, karena seringkali orang-orang salah mengartikannya.

Ini sebenarnya adalah peer besar untuk saya, karena saya (dengan kesadaran penuh) juga sering salah mengartikannya. Syukur tidaklah berhenti pada rasa ridha atas apa yang telah didapatkan, tapi terintegrasi dengan keinginan untuk melakukan yang lebih baik dan tentu saja implementasinya. selalu lebih baik. Continuos improvement. Nah loh?kapan berhentinya?hanya akan berhenti saat kaki-kaki kita menginjak surga.amin^^

Sampai disini, saya juga jadi teringat sepenggal kalimat dalam surat cinta untuk saya, dalam suratNya,Dia berfirman;

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “(Q.S 2:216)

Tentang harapan kita. Tentang kehendak Tuhan. Tentang takdir. Perlu sangat banyak kata untuk menjelaskan ketiganya. Saya tidak ingin terdengar bodoh dengan mencoba berfilosofi tentang ini. Karena saya memang tidak ahli. Yang jelas saya yakin, setiap yang membaca, telah mengambil pemahaman sendiri dari tulisan-tulisan saya yang tidak jelas ini. Tentang harapan kita. Tentang kehendak tuhan. Tentang takdir.

Agar terkesan sedikit bijak, biar saya simpulkan. Kesimpulannya adalah :saya sotoy.haha. tak apa-apalah, saya menghargai kesotoyan saya seperti saya menghargai nikmat hidup sehat dan waras.

Semoga saya bisa lebih bersyukur dan lebih memaknai hidup. Kamu juga.

One response so far

Aug 01 2009

celahlangit

bagian kita

Filed under Uncategorized

disini,

jangan pedulikan angin

ia hanya untuk menggoda rumput yang malu-malu

bukan untuk menyapa kita yang telah sejak dulu menyombong pada masa lalu

jangan pedulikan lafaz yang mereka ingat-ingat di luar kepala

kita punya bagian sendiri

menemukan denyut jantung kita di sela akar-akar rumput duri

kita punya bagian sendiri

mengingat nyanyian yang pernah dibawakan awan untuk bumi

kita punya bagian sendiri

tersenyum pada mimpi-mimpi kita…

3 responses so far

Jul 11 2009

celahlangit

Filed under Uncategorized

kutemukan ketiadaan

kemudian mulai menaruh harap dalam mayapada

aku sudah gila

karena jatuh cinta pada sesuatu yang tak pernah ada…

One response so far

Jun 22 2009

celahlangit

quintuplet

Filed under Uncategorized

Maka biarkanlah, sekali ini saja

Semuanya kusebut cinta

Untuk hujan yang membasuh penat,

yang membias pelangi hari itu

Untuk setangkai krisan yang dikeringkan waktu

Untuk embun subuh yang mengendus jengkal-jengkal tanah lalu merayu tulang-tulang dalam dingin

Untuk fajar yang merupa dalam warna-warna langit muda

Untuk matahari waktu dhuha yang menusuk dalam terik lemah, yang sinarnya menelisik ke balik pucuk-pucuk baru

Untuk siang yang bising

Untuk daun-daun kering yang gugur melatar sore, yang perlahan berderai juga dalam anggun

Untuk senja, dan aku lebur dalam rima-rima yang menyenandungkan baitnya dengan sengaja

Untuk bintang terang yang setia dalam jarak milyar tahun cahaya, menunggu tasbih teratur lirih memuja yang dipuja

Untuk celah langit yang melewatkan doa-doa,kemudian subuh berganti subuh.

Untuk setiap waktu yang kita habiskan, dalam cerita yang kukisahkan padamu

Kudapatkan kembali cerita yang terbingkai-bingkai dari mereka,,

Dari awan yang mendongeng lara dalam hujan, dari anak-anak itu, dari ibu mereka,

dari kau siapapun kau

Lihatlah, ada riak-riak halus pada air mukanya, air mukamu juga.

Biarkanlah, sekali ini saja, aku menyebutnya begitu

Jika bukan karenanya,

Maka tak akan sempat kubalas senyum-senyum itu.

4 responses so far

May 01 2009

celahlangit

Filed under Uncategorized

Ayah, sudah lama ya…

Sejak aku mencium tanganmu mohon pamit untuk kembali mengejar cita itu

kakak bilang diam-diam air mata ayah menetes lagi melepasku pergi,

Maaf ayah, waktu itu aku malah tertawa geli bersama kakak. Bukan maksudku. Bukan.

Andai ayah tau betapa aku sedih mendengarnya, betapa aku ingin ayah tau aku tak pernah ingin pergi dari ayah

Jika dewasa justru membuatku jauh dari ayah,

sekarang dengarlah, aku tak ingin dewasa

Biar saja aku tetap jadi gadis kecil ayah

Tapi percayalah ayah, dewasa tak akan membuatku jauh dari ayah…

Ayah ingat tidak,

Dulu, waktu aku kecil, ketika aku tertidur di sofa, siapa yang menggendongku, memindahkanku ke tempat tidur?itu ayah. Aku tau ayah sangat berhati-hati, takut membuatku terbangun. Sekarang aku beritahu, aku tetap terbangun.. tapi agar ayah tak kecewa, aku pura-pura masih tidur..

Dulu, aku juga sering lupa membawa buku -bahkan kartu ujian- yang harusnya aku bawa ke sekolah, dan siapa yang mengantarnya ke sekolah untukku? Itu ayah,, maaf ayah, bu guru pasti banyak bertanya kenapa bukuku sering ketinggalan..

Dulu, aku seriiiing sekali berdebat dengan ayah,, tentang apapun, aku tau kalau mendengar bantahanku adalah hobi ayah,, ayah sepertinya puas sekali jika berhasil membuatku geram, kemudian bersama ibu menertawakanku sambil bilang “yee yang kalah ga boleh marah”. Oh plis ayah, aku yang menang.

Ayah ingat tidak, ketika ayah bilang ayah ingin aku jadi dokter, aku malah bilang ingin jadi astronot,, maaf ayah..

Hmm..

aku tidak pernah tau bagaimana perasaan ayah ketika melihatku lahir ke dunia, bagaimana perasaan ayah mendengar tangisanku, pertama kali menggendongku,lalu waktu terasa cepat berlalu, dan aku mulai bersekolah, bermain dengan teman-temanku hingga kemudian aku sudah mulai bisa membantah ayah dan perlahan hanya sedikit waktuku untuk ayah..

tapi aku tau,dulu, sekarang dan sampai kapanpun, selalu ada doa ayah untukku,

terimakasih ayah..

Maaf,, aku sering membuat ayah kecewa..

Aku sayang ayah. Sangat.

Satu lagi, aku ingat, sejak aku kecil, di setiap ulang tahunku, aku tau ayah selalu berusaha menjadikan hari itu menyenangkan untukku…

Dan sekarang, selamat hari lahir ayah…maaf telat sehari… (anak macam apa kamu???)

Doakan aku bisa menghadiahkan jannah untuk ayah ya…

~dari seorang anak sotoy, untuk ayahnya…

9 responses so far

Apr 18 2009

celahlangit

puisikah ini?

Filed under Uncategorized

Bukankah,

di tiap-tiap memeta langkah

dalam cinta, Tuhan berbahasa?

Pagi, siang, petang, malam

tak pernah bergulir masa

Kecuali nikmat melimpah-limpah dari langit

Alam masih membalas senyum,

walaupun malu-malu

dan tangan-tangan malaikat masih sudi menyelipkan rizki

apalah arti pekat jelaga petang ini

Jika masih ada hujan esok pagi…

Maka aku..

Masih pantaskah lancang mendikte Tuhan?

Bukankah,

Di tiap-tiap memeta langkah

Dalam cinta, Tuhan berbahasa?

Lalu di pinggir waktu

Hingga temaram senja sengit

Antar mata dewa ke kaki langit

Saat itu aku

Ingin sekali keluh jenuhku

Kutinggalkan

Di sela ranting-ranting mawar yang perlahan layu..

One response so far

Mar 08 2009

celahlangit

nanananana(???)

Filed under Uncategorized

Kemaren malam, kemarennya lagi, kemarennya lagi, kemarennya lagi, intinya beberapa malam yang lalu aku baru pulang dari kampus abis maghrib.

Bandung lagi ujan. Jadi pulangnya ujan2an. Sendirian.

Pas nyampe pelesiran, beli makan dulu : nasi padang dibungkus. Pas mw balik, tiba2 ada yang manggil-manggil, ”cha.cha.cha!”. Ternyata yang manggil k’upik dari warung nasi goreng sebelah warung jus sebelah warung nasi padang (ribet banget cha)

“sini neng ocha!”, si ibu yang jualan nasi goreng manggil (btw, cerita dulu, ibu ini bukanlah figuran, tapi tokoh utama. Ibu ini yang jualan nasi goreng, jualan mie goreng juga, mie rebus juga, nasi mawut juga, capcay juga *apa sih cha?* intinya jualan makanan)

“iya bu”

“ujan2an cha? ga bawa payung?”, k’upik nanya.

“kan ga punya,hehe”

“dasar”

“mau bikin sendiri neng ocha?”, si ibu nanya sambil ngaduk2 entah apa itu.

“aku ga makan bu”. Ga enak juga bilang uda beli nasi padang.

“lagi diet cha?”.k’upik nanya lagi.

“ya enggalah, apaan..”

Aku mengambil kursi plastik terdekat lalu duduk. Bengong. Kedinginan. K’upik mengambil alih pekerjaan si ibu numis sesuatu. Si ibu jadi nganggur.

“neng ocha mw dibikinin teh anget?”

“hm???” *bengong*

“mw neng?”

“…”*mikir*

“ga bayar kok neng…”

“hihi”*seneng*

Ngelirik k’upik. K’upik ngangguk2 sambil senyum2.

“takut ngerepotin bu..”*basa basi doang*

“ya engga atuh neng…”

“hmm.. boleh deh bu..makasih..”* malu-malu tapi mau juga* (lebih ke malu2in sih)

Lalu si ibu ke belakang. Bukan. Bukan ke toilet. Tapi ke dapur, mw bikinin teh anget. Beberapa menit kemudian si ibu dateng dengan dua gelas teh anget, buat aku sama k’upik.

“neng ocha, neng upik, ini tehnya.. diminum sok,,anget2,,”

“makasih bu,,”. Aku senyumin ibu. Si ibu balas tersenyum.

“ibu ga minum?”

“ibu mah ga usah neng..”

Hujan makin deres,,Hmmm,, teh anget…pas banget…

Rasanya uda lamaaaaa banget ga minum teh anget,,

Tiba2 jd kangen mama

Jd kangen rumah…

hikssssssss

9 responses so far

Feb 05 2009

celahlangit

tentang ikhlas… (1)

Filed under Uncategorized

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”(Q.S An Nahl:66)

subhanallah..

hati yang ikhlas itu…

murni. bersih tanpa polutan duniawi.

seperti susu bersih dari binatang ternak. ada antara tahi dan darah,

tapi sedikitpun ia tak tercemar,

sedikitpun tidak…

Ikhlas itu keistiqomahan

untuk selalu memberikan yang terbaik,

tak berubah karena pujian, tak mempan oleh cercaan

selalu memberikan yang terbaik untuk-Nya,

demi ridho-Nya bukan ridho makhluk, bukan ridho manusia…

Ya Allah, betapa inginnya kami, agar hati ini dihiasi ikhlas..

betapa inginnya kami,

agar hati ini menjadi tempat Kau menitipkan “rahasia”Mu,

menitipkan ikhlas, yang sungguh hanya Engkau yang tahu,,

karena bahkan kami, tak punya kuasa atas hati kami…

maka ya Allah, ikhlaskanlah…

4 responses so far

Older Posts »