Oct 06 2009
cumulus humilis
Terselip rinduku di celah puing- puing itu
Diantara tanah retak yang kau injak-injak
Di antara udara gersang kota itu,yang kau rasakan cuacanya,kau puji langitnya, awannya, bintangnya
Terselip rinduku di sana..
Di antara dinding-dinding rumahmu, yang ia rekam ceritamu, ia rekam doa-doamu, ia rekam tawamu waktu itu…
Terselip rinduku di sana, di satu bagian hatimu,
Di wajahmu, di keningmu, di pundakmu, di lenganmu, di telingamu,
ingin kubisikkan lekat-lekat disana bahwa akan ada hari baru..
tak peduli kau sudah tak lagi bisa mendengar kalimatku..
hanya sekedar menyeka duka dari petaka
melepuh lelah
hingga senyummu kembali merekah indah..
hanya untuk itu,,
Makanya ia menyelip lekat disitu…
*Untuk tanah kelahiranku, untuk kota kecilku, untuk saudara-saudaraku, untuk senyum mereka, untuk apa saja yang Kau ambil dariku, aku percaya ada ganti yang lebih baik…huff…amin.
