Oct 10 2008
Tentang cinta
saya merasa tertohok dengan sebuah komen di salah satu postingan saya,
“gimana caranya kamu bisa mencintai-Nya???”
ckckck,, subhanallah!!! pertanyaannya bikin saya balik mempertanyakan banyak hal ke diri saya, juga bikin saya laper-laper mules (apa coba?).
Untuk yg nanya, maaf sy cm bs jawab dengan segala kesotoyan saya. mungkin akan terdengar bodoh dan klise, tapi maklumlah, baru sebatas itu pemahaman saya, harap dimaklumi. (ya ampun, rendah hati bget y saya..wekekeke)
dan apapun yg sy tulis belum berarti sy juga sudah menjalankannya. sy juga masih belajar. semoga Allah mengukuhkan hati ini untuk senantiasa belajar.
Saya juga ingin meluruskan sesuatu,,
pernyataan bahwa saya mencintainya bukanlah pendeklarasian bahwa saya telah mencintai-Nya dengan benar melainkan janji dan komitmen saya bahwa saya ingin mencintai-Nya. Yap! sebuah niat, komitmen awal. Sebuah keinginan. Semua cukup berawal dari keinginan, dari keinginan yg selanjutnya jadi awal segala usaha saya untuk mendekatkan diri pada-nya, mencurahkan mahabbah semata-mata untuk-Nya dan karena-Nya. Saya tidak perlu berpikir rumit apakah usaha saya telah berhasil. Karena saya tahu, Dia tidak melihat pencapaian saya, tapi melihat sekeras apa saya berusaha.
kenapa bisa mencintai?
ada banyak alasan untuk mencintai bukan? Dan alasan paling rasional kenapa kita mencintai-Nya adalah karena Dia mencintai kita. Terkait dengan aqidah, pengakuan akan nilai-nilai ketuhanan dan tujuan penciptaan yang selanjutnya menjelma menjadi dasar-dasar segala bentuk penghambaan, menjadi alasan atas ibadah-ibadah kita. Bagaimana mungkin kita tidak mencintai-Nya sementara Dia telah men”jadi”kan kita dan menyempurnakan kejadian kita, meniupkan ruh, membentuk kita dalam sebaik-baik bentuk, mencurahkan tak terhitung nikmat, menyusun alur hidup yang luarbiasa, menyiapkan malaikat yang menjaga kita. Apalagi yg kurang??? butuh alasan apalagi untuk menyiang angkuh dan menyemai bibit-bibit cinta?? itu sudah jauh melampaui cukup . Walaupun sebenarnya kita masih punya sangat banyak alasan kenapa mencintai-Nya. Dan alasan favorit saya (terinspirasi dr sebuah novel terjemahan,hehe) adalah bukan karena saya harus mencintai. bukan keharusan. melainkan saya mencintai karena saya memang ingin begitu. yap, karena sebuah keinginan.
mungkin alasan ini terdengar klise untuk banyak orang. Tapi bagi saya, itu berarti banyak. lagi-lagi, itu komitmen.
Bagaimana bisa mencintai-Nya??
Terus terang saya merasa belum pantas menjawabnya.
tapi saya ingin berbagi satu hal. satu sudut pandang dalam menilai cinta. saya pernah membaca sebuah tulisan dan sy dpt pelajaran berharga tentang bagaimana menilai cinta dari sana. Cinta adalah bahasa universal yang manusia di belahan bumi manapun mampu menangkap nilai-nilainya tanpa medium lingua. tanpa rumit dan beragamnya usaha orang-orang menarik defisini cinta ke dalam kata-kata. Semua org setuju bahwa cinta adalah hal yang positif walaupun seingat saya tak ada satupun teks buku pelajaran yang menyuguhkan definisi cinta.
dan pelajaran yang pernah saya dapat adalah jangan memperumit makna cinta. Sederhanakanlah. Jangan memandang cinta sebagai sebuah kata benda. karena ketika kata itu masuk ke ranah nomina, ia adalah sesuatu yang abstrak. Siapa yang pernah tau bagaimana bentuk cinta? apakah cinta adalah gambar hati berwarna pink? atw seperti mawar?? ada yg tahu?
ketika kita tidak tau wujudnya tentu saja kita akan kebingungan mengapresiasinya. Jadi jangan pandang cinta sebagai kata benda, tapi pandanglah ia sebagai kata kerja. Karena itu akan membuatnya dinamis. Sekarang cinta adalah perbuatan. Cinta adalah hati-hati yang “tergerak” untuk berbuat, kaki dan tangan yang “bergerak” dan berbuat, dan selanjutnya segala kebaikan yang kita perbuat semata-mata adalah bentuk cinta kita pada-Nya. Semata-mata karena mencintai-Nya.
tidak perlu cemas,, cinta pada-Nya bukanlah sholat 24jam dalam sehari, juga tidak perlu mencemaskan apakah sujud-sujud panjang kita telah menggetarkan arasy-Nya, itu urusan-Nya. Yang penting niatkan bahwa segala bentuk ibadah (selain adalah karena mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka yg Ia janjikan) adalah bentuk cinta kita pada-Nya, usaha kita mendekatkan diri pada-Nya.
terakhir,,
sesungguhnya Dia-lah yang meniupkan segala perasaan, milik-Nya lah segalanya, dari Dia segala berawal dan juga pada-Nya segala sesuatu bermuara.
Semoga Sang Pemilik Cinta memenuhi hati-hati kita dengan cinta pada-Nya dan cinta karena-Nya. Amin.
wallahu’alam…
nb: knp jadi pake ’saya’2 ya??? (ga penting ya?hihi)
